Sedih sebenarnya jika harus kembali mengulang pelajaran sejarah yang ada di smp maupun sma. Bagaimana tidak, sejarah bangsa Indonesia yang begitu besar dan luar biasa ternyata telah lama diselewengkan dan ironisnya lagi tak banyak orang Indonesia yang tahu faktanya.
Dari sebuah majalah Islam, Eramuslim digest, pernah ada wawancara dengan seorang tua yang luar biasa. Dia adalah Letnan Jendral (Purn) Zaini Azhar Maulani atau yang biasa disebut ZA Maulani saja. Dengan bergetar bibirnya sempat berucap “Negara ini sangat zalim dalam merekam perjalanan sejarah bangsanya sendiri”. Beliau juga melanjutkan ceritanya bahwa reformasi telah gagal dibanyak bidang. Salah satunya adalah di bidang penulisan sejarah bangsa. “Bagaimana generasi muda bisa bercermin pada sejarah bangsa bila yang ditemukan atau dikisahkan kepada mereka adalah kebohongan demi kebohongan” ujarnya.
Menurut beliau penulisan sejarah bangsa Indonesia telah banyak menyimpang dari fakta-fakta yang terjadi.
“Siapapun takkan bisa menolak fakta bahwa perjuangan ummat Islam lah yang menjadikan negeri ini merdeka dan mampu mempertahankannya. Semangat jihad lah yang membuat bangsa dan negara ini kuat menghadapi gempuran berbagai musuhnya. Tapi apakah hal ini ditulis dengan benar dan apa adanya dalam sejarah kita? Tidak, sama sekali tidak!” tegas lelaki kelahiran Marabahan, kota kecil di Kalimantan Selatan 1939 silam ini.
Jendral yang sangat luar biasa ini pun melanjutkan. “Jika tidak percaya dengan apa yang saya ucapkan ini, silakan Anda pergi ke museum. Lihat apa yang ditulis disana tentang perjalanan bangsa ini. Apa yang mereka tulis tentang ummat Islam dan perjuangannya?”.
Pernyataan yang terakhir tersebut memang cukup menusuk. “Museum-museum kita menuliskan bahwa ummat Islam Indonesia tidak lebih sebagai pemberontak. Ada DI/TII dan NII Kartosuwiryo, Daud Beureueh, Kahar Muzakar, Gerombolan Imron ‘Woyla’, peledakan Borobudur dan sebagainya. Ummat Islam Indonesia dituliskan sebagai teroris. Tidak lebih dari itu”.

Memang aneh sejarah bangsa dan Negara yang tertulis di negeri ini. Sungguh sangat memalukan. Sebagai pembuktian cobalah untuk pergi ke museum ABRI Satya Mandala yang terletak di jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Mengapa disana? Karena dari masa orde baru hingga kini museum tersebut dianggap terlengkap dalam memotret sejarah perjuangan rakyat dan TNI dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia..
Bagian pertama yang Anda masuki adalah sebuah ruang dengan yang dipenuhi dengan sejumlah panji-panji angkatan. Lalu memasuki ruang yang menggambarkan diorama pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno dan Moh. Hatta. Kemudian diikuti dengan diorama lainnya dan berakhir pada pertempuran Surabaya, 10 November 1945 yang sekarang diperngati sebagai hari pahlawan.
Tak ada satupun dari semua itu yang menyinggung peran pejuang Islam dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Padahal, sebagai contoh saja, pertempuran Surabaya 10 Novemver 1945 dicetuskan dari hasil Deklarasi Jihad para Ulama se-Jawa pada bulan oktober 1945 untuk menyatukan tekad mengusir penjajah yang ingin menguasai lagi Indonesia.
Peranan Bung Tomo dalam membakar semangat Jihad arek-arek suroboyo dari corong RRI dengan pekikan Allahu Akbar” berkali-kali hingga bergema diseantero kota pahlawan tak juga disinggung. Padahal nyaris seluruh arek-arek suroboyo rela berkorban jiwa dan raga karena semata-mata dilandasi oleh semangat jihad fi sabilillah.
Peranan ummat Islam pun sebenarnya tak hanya berhenti sampai disitu saja. Contoh lain adalah pada Palagan Ambarawa, 15 Desember 1945. Di museum tersebut tak sedikitpun disinggung tentang peranan para Kiai dan Pasukan Santri yang sebenarnya merupakan pasukan inti ketika memukul mundur pasukan Inggris, wakil dari pasukan sekutu yang baru saja mabuk kemenangan pada perang dunia kedua.
Sejarawan Islam dari Bandung, Ahmad Mansyur Suryanegara, pernah mengisahkan, “Sejarah kita tidak menuliskan dengan benar soal Palagan Ambarawa. Padahal saat itu adalah momentum yang sangat penting. Karena ketika itu Pasukan Santri yang dipimpin para Kiai berhasil dipukul mundur pasukan Inggris yang merupakan pasukan pemenang perang dunia kedua. Pasukan santri juga berhasil merebut sejumlah benteng peninggalan Belanda dan membuat sekutu yang dipimpin Mayjen Hawthron, Panglima divisi India ke-23 pontang-panting melarikan diri menuju kapal mereka yang bersandar di pelabuhan Semarang.”
Kedahsyatan pertempuran Ambarawa ini kemudian diperingati oleh TNI sebagai hari infanteri. Sebuah hari yang menjadi kebanggan bagi korps yang dikenal di dunia sebagai The Queen of the Battle. Kemenangan di Ambarawa jualah yang kemudian menaikkan tokoh religius yang juga mantan ustadz Muhammadiyah, Soedirman sebagai panglima Tentara Republik Indonesia (TRI).
Namun sayangnya sejarah yang luar biasa ini dituliskan dengan tidak adil. Palagan Ambarawa dianggap sebagai kesuksesan tentara semata dan seolah menghapuskan peranan para Kiai dan Pasukan Santri.
Selain itu tentunya pengkhianatan para founding fathers negara ini terhadap amanah rakyatnya sendiri dengan mengubah sila pertama pada piagam Jakarta dari Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi Ketuhanan yang maha Esa. Kejadian ini adalah pembuktian secara nyata untuk menafikkan perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan teriakan Allahu Akbar dan semangat Jihad fi sabilillah.
Diorama-diorama lainnya bergambarkan beragam aksi pemberontanan yang kebetulan dilakukan atas nama Islam seperti Komando Jihad dengan peristiwa Woyla, DI/TII, peledakan candi Borobudur, pemberontakan Yon 427 yang terdiri dari mantan Lasikar Sabilillah dan Hisbullah, dan sebagainya.
“Dimuseum-museum kita perjuangan ummat Islam Indonesia dihapuskan begitu saja, sama sekali todak pernah dianggap ada. Jikapun ada, maka hal itu hanya terkait peristiwa pemberontakan atau terorisme. Ini yang harus diubah” ujar ZA Maulani.
Memang Letnan Jenderal (Purn) ZA Maulani kini telah tiada. Kepulangannya menghadap Allah pada 5 April 2005 hendaknya tak mematahkan semangan kita untuk terus menguak fakta yang sesungguhnya dibalik perjuangan merengkuh dan mempertahankan kmerdekaan Indonesia. Dan yakinlah akan lahir kembali ZA Maulani – ZA Maulani yang lain.
DIarsipkan di bawah: Dunia Islam


