Balikpapan Dibalik Bencana

Dari beberapa kali pulang ke Balikpapan, rasanya liburan kali ini adalah yang paling special. Kenapa ? karena tepat hari ini aku dapat berjumpa dengan sesuatu yang cukup terkenal dan disegani diseluruh dunia. Ia adalah…

bencana alam.

Yups, emang dalam beberapa minggu terakhir ini cuaca di Balikpapan, Kalimantan Timur, sedang tidak menentu. Kadang hujan lebat kadang panas terik. Namun hujan lebat yang mengguyur Ballikpapan kali ini berbeda dari biasanya. Hujan yang disertai petir itu juga membawa angin puting beliung yang meluluhlantahkan kawasan parikesit, muara rapak Balikpapan.

Hujan itu turun mulai tengah malam dengan sangat lebat. Saat menjelang subuh, hujan itu reda sejenak untuk memberikan kesempatan kepada orang-orang beriman menunaikan shalat berjama’ah di masjid. Setelah itu hujan kembali mengguyur seantero kota Balikpapan. Saat pagi harinya rumahku yang berada di komplek Pertamina Gn IV mengalami pemadaman listrik (biasanya pemadaman listrik di kawasan Pertamina hanya terjadi bila ada kerusakan di kilang). Akibatnya aku tak tahu apa yang terjadi di kawasan lain kota beriman ini.

Ba’da shalat dzuhur, atau tepatnya setelah aku mendengar kabar berita angin puting beliung tersebut, langsung kulajuan Spin adikku menuju daerah itu. Kawasan perumahan karyawan Pertamina Balikpapan yang juga termasuk lingkungan stadion Persiba Balikpapan Nampak cukup mengenaskan. Pohon-pohon yang menghiasi kiri-kanan jalan tumbang menimpa rumah disekitarnya. Stadion Persiba yang sedang dalam tahap renovasi menjelang Superliga-pun tak lepas dari hantaman angin. Atap-atap yang terpasang lepas dan hilang entah kemana. Menurut seorang sumber yang tidak aku tahu namanya, ia melihat gumpalan awan hitam pekat yang berputar-putar melintasi stadion Persiba. Pria yang menaiki motor Jupiter MX dengan nomor polisi KT 5203 LI itu juga terlihat cukup kaget dengan kondisi kawasan itu.

Masih dikawasan yang sama. Sebuah sekolah dasar negeri juga ikut menjadi korban. Pekarangan depan SD tersebut hancur disapu air yang kali yang mengalir deras didepannya. Bahkan, ketika sore harinya aku lewati lagi jalan itu, nampak sebuah mobil pengeruk terperosok cukup dalam akibat tanah yang terlanjur lunak dan tak dapat menahan beban berat.

Aku kemudian melajukan motorku melewati jalan minyak. Kawasan kilang Pertamina ini nampaknya masih cukup beruntung, karena tak terkena imbas langsung dari angin puting beliung itu. Hanya ada sebuah pohon cemara besar yang tumbang dan katanya menurut penuturan seseorang sempat menghantam dua sepeda motor yang diparkir tepat di seberang jalannya.

Selanjutnya aku belokkan Spin adikku menuju kawasan Gn Dubbs (masih perumahan Pertamina). Kawasan yang menurutku memiliki view paling indah di kota Balikpapan ini juga tak mengalami kerusakan apapun. Namun dari ketinggian Gn Dubbs, aku dapat lihat beberapa bibir pantai kota Balikpapan yang biasanya berwarna biru cerah, kini warna kuning lumpaur yang cukup banyak. Sepertinya itu adalah hasil buangan dari muara sungai yang selama hujan tak mampu menampung airnya lagi.

Memasuki daerah kota tak terlihat kerusakan lainnya. Hanya saja pasir banyak berserakan di pinggir-pinggir jalan. Sepertinya hasil endapan dari selokan yang terangat oleh air. Jika memang begitu, berarti wilayah kota pun semalam ikut tergenang air juga. Kulihat wajah keheran beberapa atlet PON yang kebetulan hotelnya kulewati. Mungkin ia tidak pernah merasakn iklim yang se-ekstrim ini. Bagaimana tidak, wong dari tengah malam hujan dan baru berhenti sekitar pukul 10.30 wita, kemudian langsung disambung dengan panas terik yang cukup menyengat. Bahkan sore harinya di langit Balikpapan awan hitam pekat terlihat kembali menggantung.

Setelah melaju melewati bandara internasional Sepinggan, aku putuskan untuk melewati kawasan ringroad. Di DOME yang menjadi arena kejuaraan wushu PON ke XVII terlihat ramai sekali. Ingin sebenarnya mampir sebentar, toh gratis juga. Namun hati belum terpuaskan. Rasanya di depan sana masih ada kawasan yang menjadi korban akibat hujan lebat ini.

Betul saja, di kawasan ringroad, air menggenangi badan jalan. Memang tak seberapa tinggi, namun cukup membuatku berpikir untuk memutar balik arah. Sayang lajur satu arah yang kulewati tak mengijinkan. Jikalaupun mau memutar, jalan untuk memutar arah-pun sudah tergenangi air juga. Akhirnya… laju terussss

Dan puncak perjalanan aku hentikan di wilayah kampung timur. Tepatnya tempat peternakan dan pemotongan sapi. Wilayah yang dulu hijau ditumbuhi oleh rerumputan di kiri dan kanan jalan, saat itu habis menjadi sungai yang mengalir deras airnya. Entah dari mana datangnya air itu, tapi yang pasti padang rumput hijau itu seketika berubah menjadi sungai mahakan.

Untuk yang satu ini aku tak mau ambil resiko. Walaupun ada beberapa motor yang nekat menyebrangi ’sungai’ itu, kebanyakan dari mereka mati di tengah atau paling tidak mejadi mogok saat sampai di pinggir. Untungnya warga di sekitar daerah itu sigap dengan berdiri di tengah ’sungai’ dan mengatur arusa lalu lintas.

Cukup sudah sepertinya perjalananku ini. Kuputuskan utnuk pulang dengan memutar arah melalui terminal bus antar kota. Hamburan pasir dan lumpur di sekitar jalanpun terlihat masih banyak berserakan, menandakan banjir pada malam hari hampir menggenangi seluruh wilayah Balikpapan.

Namun di tengah perjalanan aku putuskan lagi untuk melewati kawasan parikesit. Sekedar melihat sekali lagi kawasan yang babak belur itu. Kemudian aku langsung pulang melewati wilayah rapak. Woow, kasihan sekali aku melihat para pedagang koran dan majalah yang biasa berjualan disana. Mereka terpaksa menjemur semua dagangannya agar bisa laku kembali. Tak hanya pedagang koran. Bahkan tokot-toko elektronik dan sembako juga menjemur dagangan mereka. Bahkan yang cukup mengenaskan, air terus menerus keluar dari lantai dasar Rapak Plaza, dan terlihat beberapa retakan di lantai atasnya. Sepertinya akibat tanah yang bergeser setelah diguyur hujan terus-menerus.

Sore harinya, Ba’da Ashar, aku kembali keluar rumah bersama keluarga, hanya saja rute yang kami lalui berbeda. Rapak Plaza yang dari siang hari kulihat mengeluarkan air, juga masih belum berhenti. Melewari kawasan Karang Jati – Karang Jawa – Karang Bugis – dan Gn Sari terlihat cukup mengenaskan. Beberapa warga sibuk memperbaiki jembatan depan rumah maupun tokonya yang rusak. Yang cukup parah adalah kawasan Gn Sari. Tanggul yang sempat dibangun beberapa waktu lalu di kawasan ini kembali hancur. Jalan yang baru saja diperbaiki dan di aspal seketika itu juga hancur dan menjadi lumpur yang becek.

Mengerikan memang. Namun inilah kehidupan. Ada saatnya kesenangan dan kegembiraan meliputi kota ini, namun juga ada saatnya kesediah dan bencana yang memayunginya. Tinggal kita yang memutuskan untuk bagaimana menyikapinya. Allah swt telah berfiman :

Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”). Q.S. Al-An’aam (6) : 63

Yah… kita patutnya menjadi orang yang bersyukur. Pun terhadap bencana ini. Toh Allah maha adil. Kawasan yang paling babak belur adalah kawasan perumahan Pertamina yang notabene merupakan orang-orang mampu, bukan kawasan penduduk yang tak mampu. Sekali lagi ini harus tetap disyukuri, karena walau bagaimanapun tak sampai ada jatuh korban jiwa (sampai tulisan ini selesai belum ada kabarnya).

Satu lagi, kepada siapapun, jadikan bencana ini sebagai bahan introspeksi diri. Pasti ada yang salah pada negeri ini sampai Allah menurunkan bencana yang sepertinya tak putus-putus. Bahkan kabarnya, apa yang terjadi di Balikpapan hari ini hanyalah ekor dari bencana angin ribut di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Dan bagi warga Balikpapan sendiri, jadikanlah bencana ini sebagai bahan evaluasi diri. Apa yang menjadikan kota yang dicanangkan sebagai Madinatul Iman mendapatkan ‘hadiah’ bencana yang luar biasa.

FOTO-FOTO EKSKLUSIF HASIL JEPRETAN-KU SENDIRI

(Kalo mau lebih jelas di klik aja…)

Coba lihat gambar yang ada sapinya itu !!! sebelum kejadian ini, daerah itu adalah kawasan padang rumput tempat sapi-sapi di ternakkan. Namun saat peristiwa ini terjadi yang ada hanyalah air yang mengalir dengan deras, bahkan hingga memotong badan jalan…

Ralat, Data dan Fakta

  1. Ternyata ada ditemukan 3 korban jiwa. Yang perrtama adalah Yunus Tibe (39 th) Warga Jl. Banjar kel. Gn Sari Illir yang terseret arus sungai klandasan besar. Kemudian dua bocah kakak beradik, Gerald Jean Biesshienebert Hutagalung (6 th) dan Neil Kevin Moura (9 th) yang tewas tertimpa reruntuhan rumah orang tuanya di kawasan Jl. Video (belakang PDAM Martadinata).
  2. Longsor terjadi di dua lokasi, yaitu: Sumber Rejo yang membenamkan empat RT dan menyebabkan 10 rumah rusak. Sedangkan kawasan Gn Sari Illir terdapat satu rumah yang rusak.
  3. Lokasi angin puting beliung adalah di kompleks perumahan Pertamina Parikesit dengan kekuatan 27 knot yang merusak 180 rumah, puluhan pohon tumbang dan atap stadion Persiba rusak.
  4. Banjir terjadi di kawasan : Margasari (badan jalan banjir), Jl.Patimurra, perumahan KPM, Jl. MT Haryono, Karang Rejo, Sumber Rejo, Gn. Samarinda, Klandasan Illir, Kelurahan Damai dan juga terjadi banjir lumpur di Jl. Achmad Yani.
  5. Banjir juga melumpuhkan layanan fixed phone, multimedia, speedy dan flexy dan mengakibatkan layanan masyarakat terganggu (ATM dll)
  6. Curah hujan pada hari tersebut berada di kisaran 60 milimeter dan diperkirakan bulan juli ini curah hujan akan berada diatas normal dengan kisaran 220 milimeter.

Sumber : kaltim Post

3 Tanggapan

  1. Waw… ngeri banget nich… kemarin pagi juga aku nekad pergi kerja, padahal di daerah bawah rumahku udah mulai banjir… tapi aku n kakakku tetap menerjang banjir dengan motor menuju ke batakan, bukan main lebatnya hujan kemarin, alhamdulilah akhirnya sampai di tempat kerja dengan keadaan baik2 saja… fiuuhhh!!!!!!!!

  2. aduh rumah kuw hancurr,,,,,
    makasih info foto na

  3. Basi banget ya diriku,
    Aku baru tau lho sampe separah i2 kota tercintaku, tapi pas kebetulan diriku lagi g dibalikpapan, jadi hanya tau cuma terjadi puting beliung, g terlalu tau g spesifik,
    Iya nie, sbg bahan intropeksi diri dan harus lbh bersyukur kpd hambaNya lah…

    Bangkit Balikpapan,
    Harapan itu masih ADA!
    )8(

Tinggalkan Balasan