Aneh… inilah Indonesia, yang masyarakatnya masih saja ada yang mau diperbudak oleh nafsu dunia dan kepentingan-kepentingan bangsa lain. Jika kita mau menengok sebentar permasalahan Indonesia yang sedang hangat-hangatnya, maka kita akan menemukan konflik hebat antara orang-orang berpikiran jernih yang mendukung RUU Pornografi dan orang-orang yang dijadikan wayang oleh pihak-pihak bejat untuk menolak RUU tersebut.
Wayang? Ya, karena mereka telah terpedaya dan terperalat oleh berbagai macam alasan untuk menolak RUU Pornografi. Sekedar perbandingan, bahkan negara seperti Amerika yang liberal-pun memiliki undang-undang yang mengatur ke-pornografi-an. Buku-buku dan film-film dijual ditempat-tempat khusus dengan izin tertentu dan hanya boleh dibeli dengan id card yang diakui. Itu baru Amerika. Singapura, Jepang, Australia, Inggris, Brazil dan bahkan Thailand juga memiliki undang-undang yang serupa. Lantas pertanyannya kenapa justru di Indonesia sulit sekali meng-gol-kan RUU tersebut menjadi UU yang legal. Ternyata Indonesia lebih liberal daripada Amerika sendiri.
Sekedar informasi yang saya dapat ketika menghadiri undangan konsolidasi tentang pemenangan uji publik RUU Pornogrfi di Roemah Djawa, Jogjakarta, Hal ini terjadi karena Indonesia adalah sasaran empuk bagi para pornographer untuk menjual hasil karya mereka. Selama ini ketidak tegasan UU yang ada dalam mengatur hal pornografi dijadikan celah untuk mereguk keuntungan. Dan tentunya mereka tak ingin ladang mereka hancur dengan keluarnya UU tersebut, maka dimunculkanlah statement-statement yang menyudutkan RUU Pornografi.
Media juga menjadi penyebab utama munculnya gelombang orang-orang yang menolak RUU tersebut. Tidak bisa kita pungkiri bahwa mayoritas media di Indonesia saat ini dikuasai oleh pihak asing, terutama media elektronik. Jika kita melihat televise, maka yang selalu diberitakan adalah aksi-aksi penolakan. Padahal diluar sana juga banyak aksi-aksi yang mendukung RUU pornografi, seperti yang terjadi di Jogjakarta pada 26 Sepetember kemarin. TV berbeda dengan Koran. Ketika kita menonton TV, maka apa yang kita lihat akan dengan serta-merta tersimpan di otak kecil kita. Sedangkan saat kita membaca Koran, perlu waktu beberapa detik bagi kita untuk memahami dan kemudian disimpan di otak kecil. Nah inilah yang kemudian dimanfaatkan media untuk mempengaruhi masyarakat. Berbagai alasan yang dikemukakan untuk menolak RUU tersebut akan dengan mudah diserap oleh masyarakat awam yang bahkan belum mengetahui tentang RUU tersebut.
Ada hal lain lagi yang menurut saya cukup aneh. Atau justru menggelikan. Salah satu hal yang dikemukakan oleh kalangan yang anti (terutama dari kalangan seniman) adalah bahwa Pemberlakuan RUU Pornografi akan memasung kreativitas dan melanggar kebebasan berekspresi. Saya tertawa ketika mendengar alasan ini. Ternyata di negeri kita tercinta, para senimannya adalah seniman porno. Apakah tidak ada lagi seni lain yang bisa mereka buat. Atau jangan-jangan hanya seni porno saja yang mampu mereka ciptakan. Sungguh menggelikan, bahkan sangat menggelitik. Sungguh kreativitas yang sempit.
Ada lagi alasan yang menyebutkan bahwa RUU P akan mengancam kebudayaan lokal dan industri pariwisata. Sebenarnya sampai mulut berbusa-pun mereka tak akan mau mengerti bahwa pada pasal 14 RUU P disebutkan bahwa ada dispensasi untuk kategori seni dan budaya, adat istiadat serta ritual tradisional. Apa mereka tidak membaca? Ya wajarlah, karena hanya ikut-ikutan. Selain itu, masih pada acara konsolidasi pemenangan uji publik RUU Pornografi di Roemah Djawa, ibu (lupa namanya) dari Aliansi Selamatkan Anak Indonesia, yang menjadi pembicara juga mengatakan bahwa dirinya pernah diprotes oleh seseorang dari papua yang kerap kali dijadikan contoh oleh orang-orang anti RUU P tentang cara pakaian mereka yang nanti bakal dicap porno. Orang papua tersebut mengatakan bahwa apa yang mereka kenakan adalah akibat keterbelakangan wilayah mereka. Seandainya mereka diberikan jatah pendidikan yang sama dengan daerah lain, tentunya mereka tak akan berpakaian seperti itu. Lagipula, sambung orang tersebut, siapapun orang papua pasti akan mengenakan pakaian yang pantas jika akan berkunjung ke kota. Jadi jangan dianggap mereka sebagai pendukung para anti RUU P. itulah yang ditekankan oleh orang papua tersbut.
Masih banyak juga permainan media lainnya. Pada kesempatan yang sama, sebelum mengakhiri acara tersebut, pembicara juga membacakan sms curhat dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta. Dalam majalah tempo, disebutkan bahwa Meutia Hatta menolak RUU P. Namun dalam sms-nya beliau membantah telah berkata demikian. Memang dulu, saat masih bernama RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, Meutia Hatta dengan tegas menolak. Namun kini, setelah melihat dan memahami RUU Pornografi, beliau tidak lagi memiliki satupun alasan untuk menolaknya. Dan inilah sepertinya yang membuat kalangan media kaget dan memutarbalikkan fakta.
Sebenarya masih banyak alasan lain yang muncul, namun semuanya terasa tidak masuk akal dan dengan mudah akan mampu terjawab. Satu hal yang pasti, kita sangat membutuhkan peraturan tentang pornografi. Bagi sebagian orang yang mengaku beraliran ‘bebas’ akan memandang sebelah mata kalimat tersebut. Bagi mereka tidak ada aturan yang harus ditaati. Namun ingat, peraturan dan batasan itu adalah niscaya. Seorang Affandi, pelukis yang beraliran bebas sekalipun tetap membutuhkan aturan. Ia tidak akan melewati garis tepi pada kanvasnya, sekali-kali tidak akan. Dan itu adalah salah-satu bukti bahwa semuanya perlu aturan. Karena tanpa aturan lukisan yang dibuat oleh Affandi tidak akan bermakna karena terpotong oleh bingkai.
Indonesia sendiri saat ini menjadi surga pornografi kedua terbesar di Indonesia setelah Russia. So, tidak mungkin singa yang kelaparan akan melepaskan mangsanya begitu saja. Tidak mungkin para pengeruk keuntungan dari bisnis pornografi akan membiarkan sumber uang mereka terlepas begitu saja.
AYO…
SELAMATKAN MORAL ANAK BANGSA !!!
DIarsipkan di bawah: Politik dan Budaya



tulisan bagus bro.
spy lebih yahuud, dikupas lebih ilmiah dan dikemas dengan bahasa koran, trus kirim aja ke kaltim post. aku ada teman di situ bisa bantu untuk dimuat….
ingat, itu juga bagian dari perjuangan….
mereka patut membaca tulisan ini…