Sebuah kapal Israel menabrak kapal pengangkut 3.5 ton bantuan obat-obatan untuk rakyat Gazza, Palestine. Sebuah ironi, jika memang alasan pemerintah Israel menyerang Gazza adalah untuk membumi hanguskan Hamas, kenapa justru bantuan untuk rakyat sipil juga dihancukan. Jelas sudah bahwa yang diincar Israel bukan hanya para pejuang Hamas, tapi semua warga non yahudi di Gazza.
Sampai hari ini sudah 375 orang yang tewas dan 1400 lainnya luka-luka. Israel tidak mau tahu akan semua itu. Baginya semua adalah musuh. Bayi-bayi, anak-anak, para wanita dan orang-orang lanjut usia dibantai habis. Semua ini adalah dampak dari ketakutan mereka. Mereka khawatir bayi dan anak laki-laki yang tumbuh kelak akan menjadi mujahid-mujahid yang shaddiq. Khawatir para wanita kelak akan melahirkan para pembebas bumi al-Quds dan khawatir bahwa para orang-orang tua adalah pembangkit semangat dan otak dari segala gerakan pembebasan tanah para nabi. Karena itu, bagi Israel semua adalah Musuh.
Namun satu hal yang pasti bagi kita di Indonesia, Jarak yang jauh telah menghalangi kita untuk berjihad dengan perang kesana. Tetapi perjuangan tidak berhenti. Masih ada Jihad harta yang bukannya tidak mingkin untuk kita galakkan. Ingat, mereka butuh bantuan harta, baik kebutuhan pokok, obat-obatan maupun makanan. Namun semua itu tidak bisa kita kirimkan secara legal. Yang terjadi adalah seperti hal diatas, pasukan Israel akan melakukan segala macam cara untuk menghalanginya. Dibutuhkan seorang yang secara khusus untuk mengantarkannya, dan beberapa organisasi di Indonesia telah berkompeten dalam melakukan tugas tersebut. Sebut saja KISPA yang telah berjasa besar mengantarkan bantuan langsung ke Palestina.

Ada satu hal yang membuatku sempat menitikkan air mata, ketika sebuah foto dipajang di alah satu halaman dalam website KISPA. Disana terekam dengan jelas, Sekjen KISPA, Ferry Nur menerima sebuah bantuan untuk korban gempa Jogjakarta dan Jawa Tengah. Memang tidak besar-besar amat, namun lihatlah siapa yang memberikannya, RAKYAT GAZZA, PALESTINA. Luar biasa bukan? Sebuah komunitas yang bahkan pada saat damainya saja terisolir dari dunia luar masih peduli pada bangsa Indonesia, yang bahkan mereka mungkin tidak tahu letaknya dimana. Inilah hebatnya Islam, mereka tak peduli bagaimana susahnya keadaan mereka, yang mereka tahu bahwa ada saudara seimannya yang sedang kesusahan dan membutuhkan bantuan. Coba simak bagaimana perangai mulia orang-orang Palestina dalam buku Tears of Heaven, From Beirut form Jerusalem yang ditulis oleh seorang dokter relawan beragama nasrani dari Singapura , dr. Ang Swee Chai. Dia menuliskan dengan jujur kesucian hati bangsa Palestina.
Sekarang, ketika kita sudah mengetahui betapa mereka pedulinya kepada kita, lantas apakah wajar jika kita masih tak memikirkan dan membantu meringankan kesulitan mereka? Sungguh luar biasa kejamnya manusia tersebut jika memang ia ada.
Ada satu pesan super dari Rasulullah saw :
”Orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling banyak berterima kasih kepada manusia”
(HR. Thabrani)
”Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia”
(HR. Abu Daud)
Berapapun Bantuanmu Akan Sangat Berharga Bagi Mereka
(klik gambar dibawah!!!)
DIarsipkan di bawah: Amerika dan Zionis, Dunia Islam




Tak membantu Palestina = Tidak berprikemanusiaan, dan kalau muslim, + tidak memiliki solidaritas keislaman.
mana para tokoh politik yang kemarin koar2 masalah HAM? kenapa giliran gini mereka diem ajah? mana tokoh2 kontras yang kemarin genjar2 mengutuk keras kejahatan di tim-tim.. kenapa giliran di palestine mereka diem aja..
iya tuh, pada kemana orang-orang yang biasa koar-koar masalah HAM… Apa bangsa Palestina tidak punyak HAK untuk merdeka? Apa rakyatnya tidak lagi punya HAK untuk hidup? atau malah mereka merasa serangan Israel adalah HAK Asasi bernegara bangsa Yahudi tersebut…???
Kasihan Bangsa Palestine….