Siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam sebuah peperangan bukan dilihat dari banyaknya korban yang jatuh dari kedua belah pihak, bukan pula dari siapa yang memiliki persenjataan paling lengkap dan canggih. Namun akhir cerita sebuah peperangan dinyatakan berhasil atau gagal dengan melihat apakah missi yang diemban kedua pihak (atau lebih) itu terlaksana dan berakhir sesuai dengan rencana.
Dalam konteks peperangan 22 hari antara Israel dan Hamas, dapat kita simpulkan bahwa missi yang dibawa Israel ketika memerangi rakyat Gazza berakhir dengan kegagalan. Saya tidak asal ngomong. Banyak bukti yang terekam dalam jejak kekejaman mereka di tanah para nabi itu. Ayo kita ulas satu persatu.
Secara kuantitas, pasukan yang dimiliki Hamas jelas kalah jauh dibanding Israel. Ketika itu setidaknya Israel memobilisasi 176 ribu tentaranya, baik dari darat, laut maupun dari udara. Mereka memiliki 286 heli serbu jenis apa saja. Selain itu masih didukung dengan 875 jet tempur. Tank-tank canggih dengan senjata mutakhir jumlahnya 2800, senjata artileri jenis meriam, rudal dan peluncur roket sebanyak 1800 pucuk tersedia. Bandingkan dengan pasukan Hamas yang hanya berjumlah 20.000 tanpa kekuatan artileri, zonder tempur ataupun jet dan heli serbu yang serba canggih. Rudal-rudal kecil yang diluncurkan Brigade Izzudin Al-Qassam (sayap militer Hamas) pun hanyalah modifikasi rudal PG-2 buatan Russia yang diberi nama al-Yassin dan al-Banna dengan jarak tempuh hanya 55 kilometer saja. Ada juga rudal Ar-Rayan yang merupakan rakitan sendiri serta sebagian lainnya lagi rudal-rudal buatan Cina.
Namun dengan kekuatan yang tak seimbang itu ternyata Hamas masih mampu berdiri dengan kakinya sendiri. Bahkan ketika juru bicara Hamas yang juga merupakan staff khusus PM Ismail Haniyah, Sami Abu Zuhair berkunjung ke Indonesia baru-baru ini mengatakan bahwa rakyat Gazza tidak memerlukan bantuan relawan perang karena mereka masih sanggup bertahan dan menggagalkan misi pasukan Israel untuk membasmi Hamas.
Luar biasa bukan? Memang banyak korban yang jatuh dari pihak Palestina, namun itu semua merupakan imbas serangan pengecut Israel dari udara. Mereka bahka tak mampu menduduki wilayah Palestina. Walaupun mereka sempat berkoar di berbagai media bahwa mereka telah menguasai Gazza, nyatanya mereka kembali mundur ke perbatasan. Apa alasannya? karena mereka kalah dalam peperangan kota dan berhasil dipukul mundur oleh pasukan Izzudin Al-Qassam. Bayangkan, walau telah luluh lantah diterjang ribuan bom, ternyata Hamas masih sanggup mengusir Israel dari tanah Gazza. Gencatan senjata yang dikeluarkan pihak Israel dibuat seolah-olah mereka berkuasa dan mampu menghentikan perang kapanpun, nyatanya merekalah yang sedang kehabisan nafas dan akhirnya menyerah mundur menuju perbatasan.
Dalam berbagai informasi yang dirahasiakan oleh Israel, terungkap bahwa ternyata 277 serdadu Israel tewas ditangan Brigade Al-Quds (sayap militer Fatah), 80 serdadu zionis tewas ditangan brigade Izzudin Al-Qassam dan 980 roket milik Israel berhasil diledakkan. Akibatnya rasa frustasi yang berlebihan membayangi para tentara zionis tersebut (www.infopalestina.com).
Selain tidak berhasil membasmi Hamas, mereka juga ternyata gagal membebaskan seorang tentara zionis yang disandera oleh pasukan Al-Qassam. Ini semakin menunjukkan bukti bahwa serangan yang dilakukan oleh pasukan Israel gatot alias gagal total. Sama seperti kejadian di Lebanon, Israel kembali mengalami kekalahan dan dipukul mundur saat peperangan kota terjadi. So Kesimpulannya kekuatan militer Israel sangat lemah. Seandainya mereka tidak didukung oleh Amerika dengan berbagai persenjataan yang muktahir pastilah Israel saat ini telah lenyap dari peta dunia. Pembunuhan massal lewat serangan udara jelaslah bukan ukuran bahwa militer mereka adalah yang tebaik di dunia. Berikan Hamas kekuatan artileri yang sama, maka Israel akan tinggal sejarah.
Sebenarnya Israel sendiri saat ini sedang mengalami krisis ekonomi yang besar. Tahun 2009 ini para pakar ekonomi memprediksi Israel akan mengalami defisit yang cukup besar, hingga mencapai 5% dari gross domestic product (GDP). Itu belum ditambah lagi dengan krisis di jalur Gazza. Tampaknya ekonomi Israel akan semakin terpuruk.
Sejak awal serangan ke Gazza, kompleks industri Israel di Kfar Aza tutup total. Kafrit Industries misalnya, yang berada di dekat jalur Gazza, didalam kompleks ini beroperasi lusinan pabrik yang sejak tanggal 27 Desember 2008 diperintahkan untuk tutup oleh Israel Defence Force (IDF). Meski begitu ada beberapa perusahaan yang memaksa diri untuk terus beroperasi. Seperti Intel yang terus mempekerjakan 2.000 pekerja, meski jaraknya kurang dari 4,5 kilometer dari jalur Gazza. Maklum, ini adalah salah satu perusahaan penting yang harus terus beroperasi karena permintaan komponen komputer semakin tinggi.
Diperkirakan perusahaan-perusahaan yang tutup mengalami kerugian mencapai satu juta dollar setiap hari. Sementara angka biaya berperang terus membengkak, antara 20 hingga 50 juta dollar tiap harinya. Kalikan saja dengan 22 hari perang Israel-Hamas, kira-kira berapa angka yang harus ditanggung oleh Israel.
Disektor alat-alat berat, Israel juga menerima pukulan yang tidak ringan. Perusahaan pembuat alat-alat pertanian milik Israel, yang produksinya 100% untuk eksport sudah berhenti berproduksi. Semua pesananpun terpaksa dibatalkan. Karenanya pertumbuhan ekonomi Israel-pun diperkirakan hanya 1% saja, atau bukan tidak mungkin akan merujuk pada angka minus.
Dan bagi manusia-manusia yang dikendalikan oleh dorongan materialisme seperti di Israel, kondisi ini sangat berat dan menorehkan luka yang dalam. Artinya, hari ini, pasca serangan ke Gazza, Israel mendapatkan luka yang sangat dalam. Tidak berdarah-darah, namun sangat memtikan. Apalagi jika kerugian-kerugian tersebut ditambah dengan variabel boikot yang terus-menerus didengung-dengungkan oleh komunitas internasional sebagai bentuk protes pada kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel. Pasti negara Zionis itupun akan mendapatkan luka yang berat dan tidak akan mudah untuk disembuhkan.
Israel berperang untuk memperebutkan tanah, sedangkan pasukan Hamas berperang memang untuk mencari kematian. Inilah kekuatan yang sesungguhnya dari diri rakyat Palestina, terutama Hamas. Kekuatan tidak ditentukan dengan kecanggihan peralatan perang ataupun dana yang besar. Kekuatan mereka berasal dari dekatnya jarak mereka dengan dzat yang Maha Memilki Kekuatan. Semangat juang mereka berasal dari kualitas ruhiyah yang tinggi dan tahan terhadap berbagai godaan duniawi. Karena itu pulalah terus lahir generasi-generasi baru penerus perjuangan Hamas untuk membebaskan bumi Palestina dari cengkraman penjajah zionis. Selama 22 hari diserang dengan kekuatan yang tidak masuk akal, 1300 manusia kembali menghadap Tuhannya. Tapi takdir Allah berkehendak munculnya generasi penerus perjuangan para syuhada tersebut. Selama 22 hari serangan itu pulalah lahir 3.150 bayi-bayi baru di Gazza. Subhanallah, tanda pertolongan Allah begitu dekat dan nyata didepan mata manusia. Insya Allah, bayi-bayi inilah yang akan meneruskan perjuangan brigade Izzudin Al-Qassam dalam memberantas kekjian Israel.
DIarsipkan di bawah: Amerika dan Zionis, Dunia Islam




subhanallah.
mati satu tumbuh 100.
allahu akbar!!!
allah pasti akan mengganti yang hilang dengan yang lebih baik lagi, dari yang sebelumnnya. allahu akbar 3x!!!!!
ISRAEL APAPUN CARA YANG KALIAN LAKUKAN HANYA SISA-SIA SAJA, SEBAB NANTI INSYA ALLAH DI AKHIR JAMAN AL QUR’AN TELAH MENJANJIKAN KALIAN WAHAI BANGSA KERA (ISRAEL) AKAN BINASA WALAUPUN BERSEMBUNYI DI BALIK BATU, SEBAB SEMUA BENDA MATI AKAN BICARA UNTUK MEMBERITAHU TEMPAT ORANG YAHUDI PENGECUT ITU BERSEMBUNYI, SEKARANG KITA TUNGGU SAJA TANGGAL MAINNYA KARENA HANYA ALLAH SWT YANG MAHA TAHU…ALLAHUAKBAR….